Tulisan ini telah dimuat dalam antologi bersama yang diselenggarakan oleh Group kepenulisan Antologi Es Campur. dan diterbitkan oleh Ae Publishing
Oleh: Ari Saptarini
“Ri, dah siap belum?” ucap Mbak Virna, dari
balik pintu.
“Iya, Mbak tunggu dulu …,” jawabku sembari
merapikan jilbab.
Hari ini kita akan menghadiri undangan
seorang dosen yang telah diangkat menjadi menteri pertanian, Pak Anton
Apriantono. Aku yang masih fresh
graduate, kebetulan ikut menjadi tim asisten dosen di Lab. Mikrobiologi.
“Eh, kata bu Endang, mahasiswa-mahasiswa bule
itu ikut lho, se-bus sama kita”
“Hah, beneran, Mbak? Hehe, kenalan yuk sama
mereka …,”
Mbak Virna ini seniorku di kampus, dia juga
asisten dosen. Kebetulan sudah dua minggu ini kampus kami kedatangan mahasiswa
pertukaran dari luar negeri, sekitar sepuluh orang.
Sampailah kami di koridor kampus, satu bus
berukuran besar sudah menunggu penumpangnya di bawah pepohonan. Aku dan Mbak
Virna melihat sekeliling, mencari orang yang dikenal.
“Eh, Mbak itu ada bu Endang di sana, yuk kita
ke sana”
“Virna sama Ari langsung masuk aja, busnya
sudah siap berangkat” bu Endang memanggil kami sebelum kami sempat bertanya.
Begitu kami masuk melalui pintu depan, Lha?
Ternyata bus sudah penuh penumpang.
Aduh, malunya. Ternyata bus ini Cuma menunggu
kami, padahal yang ada di dalamnya adalah bapak dan ibu dosen yang terhormat.
Maafkan kami Bu! Pak! Alamak, rasanya muka ditutup panci juga masih kelihatan
merah merona.
“Kamu sih, Ri, kelamaan dandan tadi,” bisik
Kak Virna
“Iya, iya deh, Kak. Maaf”
Ups, hanya ada satu tempat duduk kosong, di
sebelah mahasiswa bule itu. Aku dan Kak Virna clingak clinguk sambil berdiri.
Untunglah Pak Kasman, petugas kebersihan kampus berdiri dan mempersilahkan kami
duduk.
“Duduk, Neng! Biar Bapak yang berdiri”
ucapnya sambil tersenyum.
“Lo yang di deket si bule,” kata Kak Virna
sambil mendorongku ke tempat duduk yang ada di depan.
“Excuse Me! May I sit in here?”
“Oh, Yes please ….”
Bus pun melaju melalui pintu gerbang kampus
dan menuju Tol Jagorawi. Wuih, sangat padat merayap pemandangan lalu lintas
siang menjelang sore ini.
Sepanjang perjalanan kami berbasa-basi. Aku
baru tahu bule berkulit hitam di sebelahku ini ternyata dari Afrika. Mereka
baru tahun ketiga di masa kuliahnya, dan program pertukaran mahasiswa itu
sangat beruntung bisa diikutinya. Karena program pertukaran itulah dia bisa
bertemu denganku katanya,
Ups, apa? Beruntung bisa bertemu denganku?
Haduh, jangan-jangan maksud yang disampaikan
berbeda dengan makna yang kutangkap? Maklum, percakapan Bahasa Inggris yang
cukup alot ini lama kelamaan membuatku pening, pusing.
Dua jam berkutat dengan kemacetan ibu kota, sampailah
kami di rumah dinas Menteri Pertanian kala itu, Bapak Anton Apriantono. Ketika
sampai, acara pengajian menjelang buka bersama sudah dimulai. Pesertanya
lumayan, mungkin mereka dari kantor kementerian.
Alhamdulillah, akhirnya waktu berbuka tiba. Sebagai
mahasiswa yang hidup hanya mengandalkan uang bulanan orangtua, kesempatan ini
tak kusiakan. Aneka hidangan berbuka mulai dari kolak, bubur candil, kurma
masuk ke perut. Ini baru takjilnya, karena makan besar akan di mulai setelah
sholat magrib berjamaah.
Ini pertama kalinya merasakan menu mewah saat
berbuka, Subhanallah …, segala jenis
makanan terhidang di meja. Bingung mau mulai dari mana? Bakso, Siomay, Sate,
Lasagna, Potato Cheese, Sop, Ayam Bakar, Ikan goreng dan aneka buah tak
terhitung jenisnya.
“Ih, Ri, Stop dulu makannya, nanti malah
engap di lambung,” Kak Virna mengingatkanku.
Lambungku
mulai merasa tak enak, sayang sebenarnya menyiakan hidangan lezat hanya
sebagai hiasan di atas meja. Namun apa daya, kapasitas lambungku tak kuasa.
Josep kembali mendekat dan berbincang di
tengah kerumunan orang di acara itu.
“Kamu wanita dengan nafsu makan besar ya
ternyata,” ucapnya dalam Bahasa Inggris.
Aku celingukan sambil senyum-senyum, tak bisa
memilih kalimat yang baik untuk menyangkalnya.
“Terimakasih pujiannya,” jawabku sambil
cengengesan.
Kak Virna, jangan biarkan aku sendiri di
samping bule hitam ini. Cukup malu saat naik bus menjelang keberangkatan tadi.
Biodata
Penulis
Arishi
adalah nama pena dari Ari Saptarini, yang lahir di Pekalongan 9 September. Saat
ini tinggal di Puri Alam Kencana - Cibinong. Pekerjaan utamanya adalah seorang
Guru SD. Sedangkan menulis adalah hobby yang dilakukannya di waktu luang. Bisa
di hubungi di Nomor telp 081514257063. Email saptarini1983@gmail.com.
Fb : Ari saptarini
#FTS
Ramadhan_ bukaku_ Buka Bersama di Rumah Dinas Pak Menteri_Ari Saptarini

No comments:
Post a Comment