Tuesday, 28 July 2015

Pengalaman Tak terlupa: Buka Bersama di Rumah Dinas Pak Menteri

Tulisan ini telah dimuat dalam antologi bersama yang diselenggarakan oleh Group kepenulisan Antologi Es Campur. dan diterbitkan oleh Ae Publishing 

Oleh: Ari Saptarini


Ri, dah siap belum?” ucap Mbak Virna, dari balik pintu.
“Iya, Mbak tunggu dulu …,” jawabku sembari merapikan jilbab.
Hari ini kita akan menghadiri undangan seorang dosen yang telah diangkat menjadi menteri pertanian, Pak Anton Apriantono. Aku yang masih fresh graduate, kebetulan ikut menjadi tim asisten dosen di Lab. Mikrobiologi.
“Eh, kata bu Endang, mahasiswa-mahasiswa bule itu ikut lho, se-bus sama kita”
“Hah, beneran, Mbak? Hehe, kenalan yuk sama mereka …,”
Mbak Virna ini seniorku di kampus, dia juga asisten dosen. Kebetulan sudah dua minggu ini kampus kami kedatangan mahasiswa pertukaran dari luar negeri, sekitar sepuluh orang.
Sampailah kami di koridor kampus, satu bus berukuran besar sudah menunggu penumpangnya di bawah pepohonan. Aku dan Mbak Virna melihat sekeliling, mencari orang yang dikenal.
“Eh, Mbak itu ada bu Endang di sana, yuk kita ke sana”
“Virna sama Ari langsung masuk aja, busnya sudah siap berangkat” bu Endang memanggil kami sebelum kami sempat bertanya.
Begitu kami masuk melalui pintu depan, Lha? Ternyata bus sudah penuh penumpang.
Aduh, malunya. Ternyata bus ini Cuma menunggu kami, padahal yang ada di dalamnya adalah bapak dan ibu dosen yang terhormat. Maafkan kami Bu! Pak! Alamak, rasanya muka ditutup panci juga masih kelihatan merah merona.
“Kamu sih, Ri, kelamaan dandan tadi,” bisik Kak Virna
“Iya, iya deh, Kak. Maaf”
Ups, hanya ada satu tempat duduk kosong, di sebelah mahasiswa bule itu. Aku dan Kak Virna clingak clinguk sambil berdiri. Untunglah Pak Kasman, petugas kebersihan kampus berdiri dan mempersilahkan kami duduk.
“Duduk, Neng! Biar Bapak yang berdiri” ucapnya sambil tersenyum.
“Lo yang di deket si bule,” kata Kak Virna sambil mendorongku ke tempat duduk yang ada di depan.
 “Excuse Me! May I sit in here?”
“Oh, Yes please ….”
Bus pun melaju melalui pintu gerbang kampus dan menuju Tol Jagorawi. Wuih, sangat padat merayap pemandangan lalu lintas siang menjelang sore ini.
Sepanjang perjalanan kami berbasa-basi. Aku baru tahu bule berkulit hitam di sebelahku ini ternyata dari Afrika. Mereka baru tahun ketiga di masa kuliahnya, dan program pertukaran mahasiswa itu sangat beruntung bisa diikutinya. Karena program pertukaran itulah dia bisa bertemu denganku katanya,
Ups, apa? Beruntung bisa bertemu denganku?
Haduh, jangan-jangan maksud yang disampaikan berbeda dengan makna yang kutangkap? Maklum, percakapan Bahasa Inggris yang cukup alot ini lama kelamaan membuatku pening, pusing.
Dua jam berkutat dengan kemacetan ibu kota, sampailah kami di rumah dinas Menteri Pertanian kala itu, Bapak Anton Apriantono. Ketika sampai, acara pengajian menjelang buka bersama sudah dimulai. Pesertanya lumayan, mungkin mereka dari kantor kementerian.
Alhamdulillah, akhirnya waktu berbuka tiba. Sebagai mahasiswa yang hidup hanya mengandalkan uang bulanan orangtua, kesempatan ini tak kusiakan. Aneka hidangan berbuka mulai dari kolak, bubur candil, kurma masuk ke perut. Ini baru takjilnya, karena makan besar akan di mulai setelah sholat magrib berjamaah.
Ini pertama kalinya merasakan menu mewah saat berbuka, Subhanallah …, segala jenis makanan terhidang di meja. Bingung mau mulai dari mana? Bakso, Siomay, Sate, Lasagna, Potato Cheese, Sop, Ayam Bakar, Ikan goreng dan aneka buah tak terhitung jenisnya.
“Ih, Ri, Stop dulu makannya, nanti malah engap di lambung,” Kak Virna mengingatkanku.
Lambungku  mulai merasa tak enak, sayang sebenarnya menyiakan hidangan lezat hanya sebagai hiasan di atas meja. Namun apa daya, kapasitas lambungku tak kuasa.
Josep kembali mendekat dan berbincang di tengah kerumunan orang di acara itu.
“Kamu wanita dengan nafsu makan besar ya ternyata,” ucapnya dalam Bahasa Inggris.
Aku celingukan sambil senyum-senyum, tak bisa memilih kalimat yang baik untuk menyangkalnya.
“Terimakasih pujiannya,” jawabku sambil cengengesan.
Kak Virna, jangan biarkan aku sendiri di samping bule hitam ini. Cukup malu saat naik bus menjelang keberangkatan tadi.


 Biodata Penulis
Arishi adalah nama pena dari Ari Saptarini, yang lahir di Pekalongan 9 September. Saat ini tinggal di Puri Alam Kencana - Cibinong. Pekerjaan utamanya adalah seorang Guru SD. Sedangkan menulis adalah hobby yang dilakukannya di waktu luang. Bisa di hubungi di Nomor telp 081514257063. Email saptarini1983@gmail.com. Fb : Ari saptarini
#FTS Ramadhan_ bukaku_ Buka Bersama di Rumah Dinas Pak Menteri_Ari Saptarini


No comments:

Post a Comment