Tuesday, 28 July 2015

FTS: Pulang Kampung


Oleh: Ari Saptarini


Perjalanan ke Jogja hampir duabelas jam lamanya dari Jakarta. Ardo, siswa kelas dua SD sedang belajar puasa.

“Hari ini kau mau buka jam berapa, Do?” tanya mama.

“Magrib, Ma” jawab Ardo mantap.

“Tapi hari ini kita akan mudik ke rumah Nenek di Jogja, gak papa jika tak kuat boleh buka sebelum magrib, Nak.”

“Enggak, ah, Ma. Aku sampai magrib aja hari ini.”

“Oh, baiklah! semoga lancar ya puasanya” ucap mama.

Ardo, papa dan mama ke Jogja menggunakan bus umum, karena tiket trevel sudah habis sejak seminggu sebelum lebaran. Ternyata menggunakan bus umum suasananya sangat berbeda. Ardo baru pertama mengalaminya. Biasanya tiap ke rumah Nenek, Ardo menggunakan trevel yang langsung sampai tujuan tanpa menaikkan penumpang dan berhenti di terminal.

“Pa, kenapa busnya dari tadi berhenti terus?” tanya Ardo penasaran.

“Ini bus umum, Nak. Berhenti karena ada penumpang yang ingin masuk. Tak hanya itu, nanti bus ini juga akan berhenti di beberapa terminal dan menaikkan penumpang”

Sampailah Bus di terminal Cirebon dan suasana terik membuat Ardo mengelus lehernya yang kering kerontang.

“Mau buka, Do?” tanya mama

Ardo menggeleng, masih bertahan dengan puasanya. Papa dan mama sudah menjanjikan akan mengganti sepeda Ardo jika berhasil puasa full selama bulan Ramadhan. Bayangan punya sepeda baru di depan mata membuat Ardo bertahan. Sampai titik darah penghabisan.

Tiba-tiba, beberapa pedagang asongan masuk ke dalam bus. Menawarkan aneka jajanan berupa gorengan tahu, lontong, kue donat, permen, kacang, minuman dan masih banyak lagi.

“Ma …, Mama …, kok banyak penjual masuk ke bus? Ini kan puasa ma, siapa yang mau beli?” tanya Ardo.

“Mungkin ada yang tidak berpuasa di bus ini kan, Do” jawab mama.

“Lho, saat Ramadhan kan wajib puasa, ma?”

“Iya, tapi jika kita sedang dalam perjalanan. Allah memberi keringanan untuk membatalkan puasa, jika memang tidak kuat.”

“Oh, kenapa mama ga bilang ke Ardo dari tadi?”

“Mama Tanya, katanya Ardo masih kuat puasanya, artinya itu bagus kan.”

“Enggak! Ardo mau buka ma sekarang, haus!” ucap Ardo sambil melihat anak di depan tempat duduknya yang sedang menikmati satu plastik es jeruk segar.

“Sabar, Do sebentar lagi magrib, sayang kan ….” kata papa melihat anaknya ingin membatalkan puasa, padahal magrib tinggal tigapuluh menit lagi tiba.

“Itu cobaan, jangan dilihatin terus, Ardo tidur aja nanti mama bangunin saat azan magrib” lanjut mama.

“Tadi pagi mama tawarin Ardo buka, kenapa sekarang ga boleh?”

“Sayang, Nak! Sebentar lagi kita buka. Sabar dulu ya ….”

Saat bus ekonomi jurusan Jakarta – Jogja itu melewati sebuah masjid, azan magrib terdengar berkumandang, nyaring. Membuat Ardo girang bukan kepalang.

“Ma, Pa, Ardo bisa lewati cobaan, Alhamdulillah.”


Cibinong, 19 Juni 2014


No comments:

Post a Comment