Oleh: Ari Saptarini
Perjalanan ke Jogja hampir duabelas jam
lamanya dari Jakarta. Ardo, siswa kelas dua SD sedang belajar puasa.
“Hari ini kau mau buka jam berapa, Do?” tanya
mama.
“Magrib, Ma” jawab Ardo mantap.
“Tapi hari ini kita akan mudik ke rumah
Nenek di Jogja, gak papa jika tak kuat boleh buka sebelum magrib, Nak.”
“Enggak, ah, Ma. Aku sampai magrib aja
hari ini.”
“Oh, baiklah! semoga lancar ya puasanya”
ucap mama.
Ardo, papa dan mama ke Jogja menggunakan
bus umum, karena tiket trevel sudah habis sejak seminggu sebelum lebaran.
Ternyata menggunakan bus umum suasananya sangat berbeda. Ardo baru pertama
mengalaminya. Biasanya tiap ke rumah Nenek, Ardo menggunakan trevel yang
langsung sampai tujuan tanpa menaikkan penumpang dan berhenti di terminal.
“Pa, kenapa busnya dari tadi berhenti
terus?” tanya Ardo penasaran.
“Ini bus umum, Nak. Berhenti karena ada
penumpang yang ingin masuk. Tak hanya itu, nanti bus ini juga akan berhenti di
beberapa terminal dan menaikkan penumpang”
Sampailah Bus di terminal Cirebon dan
suasana terik membuat Ardo mengelus lehernya yang kering kerontang.
“Mau buka, Do?” tanya mama
Ardo menggeleng, masih bertahan dengan
puasanya. Papa dan mama sudah menjanjikan akan mengganti sepeda Ardo jika
berhasil puasa full selama bulan Ramadhan. Bayangan punya sepeda baru di depan
mata membuat Ardo bertahan. Sampai titik darah penghabisan.
Tiba-tiba, beberapa pedagang asongan
masuk ke dalam bus. Menawarkan aneka jajanan berupa gorengan tahu, lontong, kue
donat, permen, kacang, minuman dan masih banyak lagi.
“Ma …, Mama …, kok banyak penjual masuk
ke bus? Ini kan puasa ma, siapa yang mau beli?” tanya Ardo.
“Mungkin ada yang tidak berpuasa di bus
ini kan, Do” jawab mama.
“Lho, saat Ramadhan kan wajib puasa,
ma?”
“Iya, tapi jika kita sedang dalam
perjalanan. Allah memberi keringanan untuk membatalkan puasa, jika memang tidak
kuat.”
“Oh, kenapa mama ga bilang ke Ardo dari
tadi?”
“Mama Tanya, katanya Ardo masih kuat
puasanya, artinya itu bagus kan.”
“Enggak! Ardo mau buka ma sekarang,
haus!” ucap Ardo sambil melihat anak di depan tempat duduknya yang sedang
menikmati satu plastik es jeruk segar.
“Sabar, Do sebentar lagi magrib, sayang
kan ….” kata papa melihat anaknya ingin membatalkan puasa, padahal magrib
tinggal tigapuluh menit lagi tiba.
“Itu cobaan, jangan dilihatin terus,
Ardo tidur aja nanti mama bangunin saat azan magrib” lanjut mama.
“Tadi pagi mama tawarin Ardo buka,
kenapa sekarang ga boleh?”
“Sayang, Nak! Sebentar lagi kita buka.
Sabar dulu ya ….”
Saat bus ekonomi jurusan Jakarta – Jogja
itu melewati sebuah masjid, azan magrib terdengar berkumandang, nyaring.
Membuat Ardo girang bukan kepalang.
“Ma, Pa, Ardo bisa lewati cobaan, Alhamdulillah.”
Cibinong, 19 Juni 2014

No comments:
Post a Comment