Tuesday, 28 July 2015

FTS: Aku dan Uang

Tulisan ini telah dimuat dalam antologi bersama yang diterbitkan oleh Ae Publishing berjudul "UANG" 
Oleh Ari Saptarini 

Performance Based on Project (P-BOP) dan warung kelas tiga akan berlangsung bulan ini. Berprofesi guru memang selalu dituntut untuk mencontohkan kreativitas kepada siswanya. Kita akan menciptakan manusia kreatif jika selalu berusaha kreatif di depan mereka. Nah kegiatan sekolah yang akan berlangsung bulan ini adalah P-BOP dan warung kelas tiga. Sibuk memikirkan apa yang bisa di lakukan saat hari H, berhubung tema di kelas adalah tema uang, akhirnya berjualan adalah pilihan. Tema dirancang sedemikian rupa, sebuah pasar malam. Nanti anak-anak akan tampil bernyanyi, menari dan membaca puisi sebagai opening awal, sebelum pasar malamnya dibuka. Saat opening itulah siswa akan menampilkan apa yang pernah dipelajarinya di sekolah.

Siswaku banyak ide cara menghasilkan uang, sebagai guru aku merasa malu jika harus menyerah membeli barang yang sudah jadi dan menjualnya kembali. Akhirnya kuajari siswaku cara membuat tusuk jelujur di kain flannel, berkreasi dengan flannel adalah tujuan akhirnya. Jadilah bross cantik dan jepit unik, walaupun hasil karya anak kurang rapi, minimal akan dibeli oleh orangtua mereka ketika kegiatan.

Satu buku kreasi paper toys menjadi ide lanjutan, kebetulan aku membacanya ketika di perpustakaan, dengan modal foto kopi warna, kreasi paper toys ikut menyemarakkan acara yang bertajuk warung kelas tiga itu. Aku terfikir untuk menghasilkan sesuatu dengan kreativitas siswaku, tercetuslah ide menyeleksi gambar mereka untuk dijadikan stiker dan pin.

Ada yang unik di warung kelas tiga nanti, semua pembeli harus menukarkan dulu uang rupiah yang dibawa dengan uang yang berlaku di warung ini. Uang yang berlaku di sini adalah uang yang didesain oleh siswanya sendiri. Jadi beberapa anak akan berperan sebagai money changer, posisi money changer akan diisi oleh siswa yang mahir hitungan matematikanya.

Besok hari yang dinanti, persiapan tinggal selangkah lagi. Mendesain ruang kelas menjadi sebuah pasar malam, bukanlah hal mudah. Untung beberapa guru membantuku, menutup semua dinding dengan kain hitam pekat. Lampu di tutup dengan kertas wajit aneka warna agar menimbulkan kesan meriah, desain panggung dibuat ala kadarnya menggunakan karpet dan tanaman sebagai pembatas di sisi kiri dan kanannya. Mempersiapkan stand jualan ternyata juga butuh waktu lama, karena selain barang yang kami buat sendiri, besok akan dijual juga aneka jajanan pasar, minuman dan alat tulis. Lelah …, sehari sebelumnya aku pulang sampai larut malam demi acara besok agar berjalan lancar.

Jam sembilan aku sampai di rumah, mendadak tengah malam badanku panas dingin. Meriang dan masuk angin. Panik! Waduh, dalam kondisi demam begini, besok aku bisa datang enggak ya ke acara kelas besok. Kekhawatiranku terbukti, paginya tubuhku lemah tak berdaya, masih demam tinggi. Mau tak mau aku ijin ke kepala sekolah, karena kondisiku yang tidak memungkinkan untuk datang. Mohon ijin juga kepada patner kerjaku, berharap dia bisa menerima kondisi darurat ini. Kegiatan kelas pun berjalan tanpa kehadiranku. Sedih …, pasti orangtua akan menanyakan di mana bu gurunya.

Alhamdulillah …, kabar baik yang kuterima, barang yang dijajakan ludes terjual semua, kita untung besar! Semua siswa merasa senang dengan kegiatan warung kelas tiga. Namun kebahagiaanku tak lengkap, karena tak menyaksikannya.


FTS: Pulang Kampung


Oleh: Ari Saptarini


Perjalanan ke Jogja hampir duabelas jam lamanya dari Jakarta. Ardo, siswa kelas dua SD sedang belajar puasa.

“Hari ini kau mau buka jam berapa, Do?” tanya mama.

“Magrib, Ma” jawab Ardo mantap.

“Tapi hari ini kita akan mudik ke rumah Nenek di Jogja, gak papa jika tak kuat boleh buka sebelum magrib, Nak.”

“Enggak, ah, Ma. Aku sampai magrib aja hari ini.”

“Oh, baiklah! semoga lancar ya puasanya” ucap mama.

Ardo, papa dan mama ke Jogja menggunakan bus umum, karena tiket trevel sudah habis sejak seminggu sebelum lebaran. Ternyata menggunakan bus umum suasananya sangat berbeda. Ardo baru pertama mengalaminya. Biasanya tiap ke rumah Nenek, Ardo menggunakan trevel yang langsung sampai tujuan tanpa menaikkan penumpang dan berhenti di terminal.

“Pa, kenapa busnya dari tadi berhenti terus?” tanya Ardo penasaran.

“Ini bus umum, Nak. Berhenti karena ada penumpang yang ingin masuk. Tak hanya itu, nanti bus ini juga akan berhenti di beberapa terminal dan menaikkan penumpang”

Sampailah Bus di terminal Cirebon dan suasana terik membuat Ardo mengelus lehernya yang kering kerontang.

“Mau buka, Do?” tanya mama

Ardo menggeleng, masih bertahan dengan puasanya. Papa dan mama sudah menjanjikan akan mengganti sepeda Ardo jika berhasil puasa full selama bulan Ramadhan. Bayangan punya sepeda baru di depan mata membuat Ardo bertahan. Sampai titik darah penghabisan.

Tiba-tiba, beberapa pedagang asongan masuk ke dalam bus. Menawarkan aneka jajanan berupa gorengan tahu, lontong, kue donat, permen, kacang, minuman dan masih banyak lagi.

“Ma …, Mama …, kok banyak penjual masuk ke bus? Ini kan puasa ma, siapa yang mau beli?” tanya Ardo.

“Mungkin ada yang tidak berpuasa di bus ini kan, Do” jawab mama.

“Lho, saat Ramadhan kan wajib puasa, ma?”

“Iya, tapi jika kita sedang dalam perjalanan. Allah memberi keringanan untuk membatalkan puasa, jika memang tidak kuat.”

“Oh, kenapa mama ga bilang ke Ardo dari tadi?”

“Mama Tanya, katanya Ardo masih kuat puasanya, artinya itu bagus kan.”

“Enggak! Ardo mau buka ma sekarang, haus!” ucap Ardo sambil melihat anak di depan tempat duduknya yang sedang menikmati satu plastik es jeruk segar.

“Sabar, Do sebentar lagi magrib, sayang kan ….” kata papa melihat anaknya ingin membatalkan puasa, padahal magrib tinggal tigapuluh menit lagi tiba.

“Itu cobaan, jangan dilihatin terus, Ardo tidur aja nanti mama bangunin saat azan magrib” lanjut mama.

“Tadi pagi mama tawarin Ardo buka, kenapa sekarang ga boleh?”

“Sayang, Nak! Sebentar lagi kita buka. Sabar dulu ya ….”

Saat bus ekonomi jurusan Jakarta – Jogja itu melewati sebuah masjid, azan magrib terdengar berkumandang, nyaring. Membuat Ardo girang bukan kepalang.

“Ma, Pa, Ardo bisa lewati cobaan, Alhamdulillah.”


Cibinong, 19 Juni 2014


Puisi: Kuberserah

Tulisan ini telah diikutkan lomba di salah satu group kepenulisan 
Oleh: Ari Saptarini

Denting waktu kian dekat menuju bulan mulia
Genderang bertalu sekujur jiwa ragaku, mengadu
Sudahkah terbuka pintu-pintu penyesalan diri di atas arsy Tuhan
Begitu kalut terbayang ribuan nista hambamu

Tuhan, Ramadhan terakhirku masih terhutang
Tigaratus enampuluh lima harimu yang membentang tak kunjung membuatku sadar
Bahwa waktuku makin berkurang
Ibadahku penuh lubang, dalam kubangan lumpur menjijikkan
AmpunanMu …, kuharapkan!

Akankah kusampai Ramadhan esok hari?
Layak kah kumohon padaMu, pertemukan Ramadhan dalam perjumpaan paling elok
Menikmati gemerlap cahaya Tuhan yang tersebar di langit paripurna
Mengagungkan sepertiga malamku dalam riuh lantunan doa-doa menujuMu

Ramadhan, ujian keikhlasan
Nikmat dunia yang berseliweran tak nyata di akhiratMu

Tempa disiplin waktuku dengan sholatMu
Latih sabarku dengan ujianMu
Naikkan derajatku dengan ilmu
Sehatkanku dengan puasaMu

Marhaban ya ramadhan, kan kugenggam maslahatMu
Yang tertabur menghambur sepanjang waktu
Semoga Kau beriku kekuatan sabar dan tawakkal
Menggapai kemulyaan Ramadhan tuk singkirkan lumpur yang mengubur


Cimanggis, 19 Juni 2014 

Cerita Tarawih: Dag Dig Dug, Tarawih dengan si Bungsu

Tulisan ini telah diikutsertakan dalam audisi naskah yang diselenggarakan oleh salah satu group kepenulisan. Namun belum lolos, just curcool... 

Ari Saptarini


Dag dig dug hatiku menyambutmu
Seperti kedatangan tamu agung ke rumahku
Repot reyot beberes sana-sani sendiri
Ah, semoga kedatangannya tahun ini menempaku lebih baik lagi

Kupeluk si Hijau Kitab Suci, berharap dia setia mendampingi ke manapun ku pergi
Kuambil jam merah hati yang menempel di dinding nurani, tepatlah waktu dalam lima kali
Kubelai lembut indraku, bisikkan pesan kebaikan, semoga kami beruntung tahun ini
Kutegaskan pada dengki dan rasa iri, biar dia sedia pergi jauh sejak dini

Hai mulut, basahilah bibir indahmu dengan lantunan pujian syahdu
Duhai mata, istirahatlah dari hal yang membutakan hati dan menjadikan pikiranmu buntu
Telingaku sayang, ingatkanku agar memilih lantunan nasehat dan kitab suci yang merdu
Tangan dan kaki, pilihlah silaturahmi bermanfaat nan menjaga hati, kunjungi rumahNya dan majelis ilmu

Ramadhan ini …, kuberjuang  bersama anak-anak dan suami
Semoga bisa mendukung suamiku, saling berbagi dan memotivasi
Si Sulung sedang belajar puasa dan berlatih mengaji
Si Bungsu mulai kukenalkan bulan suci dan cerita-cerita Nabi

Aih, si Bungsuku kini baru setahun
Buang air masih di sana-sini
Bagaimana nanti tarawih bersama si Bungsu?
Memalukan jika itu terjadi

Empat tahun ini, Tarawihku tak lengkap, banyak bolong karena kondisi
Melahirkan si Sulung kendala tahun pertama
Jauh dari masjid dan si Sulung yang baru setahun, kendala tahun kedua
Kehamilan keduaku yang huak huek, kendala tahun ketiga
Si Bungsu yang baru enam bulan kendala tahun keempat

Tahun ini, Aku harus bisa perbaiki
Si sulung kini empat tahun, bisa mengerti
Kepindahanku ke rumah baru yang berhadapan dengan masjid, semoga berarti

Satu kendalaku, si Bungsu
Nak, mari kita belajar buang air sebelum ke masjid! Bujukku
Seminggu menjelang bulan suci
Masih ada waktu melatih si Bungsu ke kamar mandi
Semoga berhasil ‘toilet training’ balitaku ini
Agar kubisa berasyik masyuk dengan tarawihku
Tanpa dag dig dug, ulah si Bungsu

Sampaikan salamku tuk Malaikat yang bertugas nanti
Kukirimkan email doa ini, semoga di ijabahi.


Cimanggis, 26 Juni 2014





Cerita FTS: Dek Safa

Tulisan ini ada dalam antologi bersama FTS "Pertemuan" di selenggarakan oleh salah satu group kepenulisan. Dan telah diterbitkan. 

Oleh: Ari Saptarini

Alhamdulillah, positif hamil!’ pekikku dalam hati.

Dua anakku, Ihsan dan Karima, sangat menginginkan adik sejak lama. Mereka berjanji akan menjadi kakak yang baik jika adiknya lahir kelak. Ini kehamilan ke lima, setelah mengalami keguguran di kehamilan pertama dan ke empat.
Kehamilan ke empat! Ya, itu terjadi dua tahun lalu, Mei 2012 saat Tuhan lebih memilih Abdullah kembali ke pangkuanNya sebelum aku bisa memeluknya. Tuhan menghentikan detak jantungnya sepekan sebelum usia kehamilanku empat bulan. Sabar …, pasrah! Hanya itu yang bisa kulakukan. Bagiku ini bukan yang pertama, karena kehamilan pertama dulu juga luruh sebelum janin berkembang sempurna.
“Calon bayi kita, laki-laki, Bun,” bisik suami di sampingku.
Aku telah merelakan kepergiannya, semoga kelak Abdullan menjadi tabunganku di akhirat. Semoga dia yang akan menyelamatkan keluarga kami kelak, Amin.
Aku jadi mengingat Abdullah. Janin berusia empat bulan yang keluar dari rahimku dengan persalinan normal. Aku bertemu dengannya, sekilas.  Sebelum dokter dan perawat membersihkannya, lalu suamiku mengubur jasadnya. Pertemuan di saat Tuhan telah menghentikan detak jantung Abdullah, dia baru limabelas centimeter ukurannya, mungil. Namun garis di wajahnya terlihat tegas, seperti Abinya.
            Usiaku kini tak lagi muda, tapi Tuhan masih memberiku kesempatan untuk kembali mengemban amanahNya. Alhamdulillah, setelah Kau ambil Abdullah yang masih empat bulan di alam rahim, segera ada penggantinya. Kali ini, calon bayiku, perempuan.
“Kita namai Safa aja, Bun,” celetuk putriku yang begitu girang, calon adiknya perempuan.
“Nanti Safa aku pinjamin boneka dan mainan milikku. Aku tidur sama Safa ya, Bun,” lanjutnya.
Sementara mas Ihsan yang mengharapkan adiknya laki-laki, memesan satu lagi setelah Dek Safa lahir.
“Karima enak punya teman, Bun. Nanti Bunda hamil lagi ya, biar Ihsan punya teman.”
Waktu cek kehamilan tiba, Deg! Perasaanku campur aduk saat dokter mendiagnosa ada kelainan rhesus, aku pembawa rhesus positif, dan calon bayiku negatif.
“Tidak apa-apa, Bu! Nanti akan ada ‘treatment’ dengan pengobatan, banyak yang berhasil kok Bu, walau beda rhesus namun bias lahir dengan sehat.” Aku tenang, karena Dr. Rose selalu menanamkan ‘positif thinking’ kepada setiap pasiennya.
Hinga akhir Bulan Sya’ban, Tuhan kembali mengujiku. Dokter mendiagnosa detak jantung janin di kandunganku hening. Ya Allah, kenapa ini harus terjadi berulang? Aku tetap mencari second opinion, hasilnya sama. Hal terberat adalah memberi pemahaman untuk anak-anak yang masih sangat menginginkan kehadiran adik bayi di rumah ini.
Awal Ramadhan, Aku kembali menyaksikan buah hatiku yang kembali kepangkuanNya sebelum tangisnya pecah di dunia. Safa hanya melalui alam ruh dan alam rahim, dia lahir dengan proses persalinan normal. Hampir sama dengan kasus kehamilanku sebelumnya, namun proses induksi terjadi lebih cepat. Safa, baru limabelas centimeter ukurannya. Bunda, Abi, Kak Ihsan dan Karima menyanyangimu, Nak.
Tapi, Allah mungkin lebih menyayangi kau, sayang.  
Selamat jalan, Safa …, ada Kak Abdullah di sana. Semoga kita sekeluarga kelak berkumpul di Syurga.

Cibinong, 10 Juli 2014


Flash True Story: Cerita ini dialami oleh salah seorang teman kantor, Semoga kuat ya Bunda sayang. 

Puisi: Negeriku Berduka

Puisi telah diikutkan lomba audisi antologi puisi

Satu diantara seribu
Kejujuran sejati di lubuk hati pejuang negeri
Membuat negeriku sayu, tak punya energi  untuk  melaju
Dimanakah teladan pahlawan bangsa ini
Sultan Hasanudin, Cristina Martha Tiahahu dan lainnya
Berjuang tanpa harap materi dunia
Hanya untuk rakyatnya semata
Korupsi!
Membuat negeri ini mati
Roda ekonomi berhenti
Kesemrawutan menjadi-jadi
            Korupsi !
            Penghalang  kemakmuran bangsa
            Dilakukan para petinggi kita
            Kaum lemah makin menderita
Korupsi!
Pergilah dari negeri ini
Beserta kroni – kroninya
Dan jangan kembali

Negeriku tercinta, tetaplah tersenyum
Dikala kemelaratan melandamu
Bersama kita musnahkanparasit bangsa.
Kita ciptakan Indonesia bersih
Tanpa tikus-tikus laknat
Pencuri uang rakyat       


Namaku Ari Saptarini, Ttl di Pekalongan 9 september 1983. Pekerjaanku adalah seorang Guru. Aku bisa di hubungi di Nomor Hp 081514257063. Emailku : a1217rn_tpg38@yahoo.com. Akun FB ku : Ari Saptarini.



Pengalaman Tak terlupa: Buka Bersama di Rumah Dinas Pak Menteri

Tulisan ini telah dimuat dalam antologi bersama yang diselenggarakan oleh Group kepenulisan Antologi Es Campur. dan diterbitkan oleh Ae Publishing 

Oleh: Ari Saptarini


Ri, dah siap belum?” ucap Mbak Virna, dari balik pintu.
“Iya, Mbak tunggu dulu …,” jawabku sembari merapikan jilbab.
Hari ini kita akan menghadiri undangan seorang dosen yang telah diangkat menjadi menteri pertanian, Pak Anton Apriantono. Aku yang masih fresh graduate, kebetulan ikut menjadi tim asisten dosen di Lab. Mikrobiologi.
“Eh, kata bu Endang, mahasiswa-mahasiswa bule itu ikut lho, se-bus sama kita”
“Hah, beneran, Mbak? Hehe, kenalan yuk sama mereka …,”
Mbak Virna ini seniorku di kampus, dia juga asisten dosen. Kebetulan sudah dua minggu ini kampus kami kedatangan mahasiswa pertukaran dari luar negeri, sekitar sepuluh orang.
Sampailah kami di koridor kampus, satu bus berukuran besar sudah menunggu penumpangnya di bawah pepohonan. Aku dan Mbak Virna melihat sekeliling, mencari orang yang dikenal.
“Eh, Mbak itu ada bu Endang di sana, yuk kita ke sana”
“Virna sama Ari langsung masuk aja, busnya sudah siap berangkat” bu Endang memanggil kami sebelum kami sempat bertanya.
Begitu kami masuk melalui pintu depan, Lha? Ternyata bus sudah penuh penumpang.
Aduh, malunya. Ternyata bus ini Cuma menunggu kami, padahal yang ada di dalamnya adalah bapak dan ibu dosen yang terhormat. Maafkan kami Bu! Pak! Alamak, rasanya muka ditutup panci juga masih kelihatan merah merona.
“Kamu sih, Ri, kelamaan dandan tadi,” bisik Kak Virna
“Iya, iya deh, Kak. Maaf”
Ups, hanya ada satu tempat duduk kosong, di sebelah mahasiswa bule itu. Aku dan Kak Virna clingak clinguk sambil berdiri. Untunglah Pak Kasman, petugas kebersihan kampus berdiri dan mempersilahkan kami duduk.
“Duduk, Neng! Biar Bapak yang berdiri” ucapnya sambil tersenyum.
“Lo yang di deket si bule,” kata Kak Virna sambil mendorongku ke tempat duduk yang ada di depan.
 “Excuse Me! May I sit in here?”
“Oh, Yes please ….”
Bus pun melaju melalui pintu gerbang kampus dan menuju Tol Jagorawi. Wuih, sangat padat merayap pemandangan lalu lintas siang menjelang sore ini.
Sepanjang perjalanan kami berbasa-basi. Aku baru tahu bule berkulit hitam di sebelahku ini ternyata dari Afrika. Mereka baru tahun ketiga di masa kuliahnya, dan program pertukaran mahasiswa itu sangat beruntung bisa diikutinya. Karena program pertukaran itulah dia bisa bertemu denganku katanya,
Ups, apa? Beruntung bisa bertemu denganku?
Haduh, jangan-jangan maksud yang disampaikan berbeda dengan makna yang kutangkap? Maklum, percakapan Bahasa Inggris yang cukup alot ini lama kelamaan membuatku pening, pusing.
Dua jam berkutat dengan kemacetan ibu kota, sampailah kami di rumah dinas Menteri Pertanian kala itu, Bapak Anton Apriantono. Ketika sampai, acara pengajian menjelang buka bersama sudah dimulai. Pesertanya lumayan, mungkin mereka dari kantor kementerian.
Alhamdulillah, akhirnya waktu berbuka tiba. Sebagai mahasiswa yang hidup hanya mengandalkan uang bulanan orangtua, kesempatan ini tak kusiakan. Aneka hidangan berbuka mulai dari kolak, bubur candil, kurma masuk ke perut. Ini baru takjilnya, karena makan besar akan di mulai setelah sholat magrib berjamaah.
Ini pertama kalinya merasakan menu mewah saat berbuka, Subhanallah …, segala jenis makanan terhidang di meja. Bingung mau mulai dari mana? Bakso, Siomay, Sate, Lasagna, Potato Cheese, Sop, Ayam Bakar, Ikan goreng dan aneka buah tak terhitung jenisnya.
“Ih, Ri, Stop dulu makannya, nanti malah engap di lambung,” Kak Virna mengingatkanku.
Lambungku  mulai merasa tak enak, sayang sebenarnya menyiakan hidangan lezat hanya sebagai hiasan di atas meja. Namun apa daya, kapasitas lambungku tak kuasa.
Josep kembali mendekat dan berbincang di tengah kerumunan orang di acara itu.
“Kamu wanita dengan nafsu makan besar ya ternyata,” ucapnya dalam Bahasa Inggris.
Aku celingukan sambil senyum-senyum, tak bisa memilih kalimat yang baik untuk menyangkalnya.
“Terimakasih pujiannya,” jawabku sambil cengengesan.
Kak Virna, jangan biarkan aku sendiri di samping bule hitam ini. Cukup malu saat naik bus menjelang keberangkatan tadi.


 Biodata Penulis
Arishi adalah nama pena dari Ari Saptarini, yang lahir di Pekalongan 9 September. Saat ini tinggal di Puri Alam Kencana - Cibinong. Pekerjaan utamanya adalah seorang Guru SD. Sedangkan menulis adalah hobby yang dilakukannya di waktu luang. Bisa di hubungi di Nomor telp 081514257063. Email saptarini1983@gmail.com. Fb : Ari saptarini
#FTS Ramadhan_ bukaku_ Buka Bersama di Rumah Dinas Pak Menteri_Ari Saptarini